ANAK PLAY GROUP BISA MEMBATIK


Kami Menawarkan belajar batik untuk anak Play Group dan TK, bahkan untuk semua usia.
paketnya cukup murah. per anak cukup bayar Rp. 10.000,- (sepuluh Ribu Rupiah) hasinya bisa dibawa pulang.

Asal Usul Batik Tulis Giriloyo

Asal usul batik tulis Giriloyo konon berawal bersamaan dengan berdirinya makam raja-raja di Imogiri yang terletak di bukit Merak pada tahun 1654. Pada waktu itu, ketika Sultan Agung (cucu Panembahan Senopati) berniat membangun makam, beliau menemukan bukit yang tanahnya berbau harum dan dirasa cocok untuk dibuat makam. Namun, ketika pemakaman sedang dibangun, pamannya yang bernama Panembahan Juminah menyatakan keinginannya untuk turut dimakamkan di tempat itu. Ternyata yang meninggal duluan adalah pamannya. Oleh karena itu, yang pertama kali menempati makam tersebut adalah pamannya dan bukan Sultan Agung. Sultan Agung pun kecewa karena sebagai penguasa atau raja seharusnya yang pertama kali dimakamkan di situ adalah dirinya. Untuk menetralisir kekecewaan, Sultan Agung mengalihkan pembangunan calon makam untuk dirinya di bukit lain yang oleh penduduk setempat dinamakan “Bukit Merak” yang berada di Dusun Pajimatan wilayah Girirejo11.

Sejalan dengan berdirinya makam raja-raja di Imogiri ini maka perlu tenaga yang bertanggung jawab untuk memelihara dan menjaganya. Untuk itu, keraton menugaskan abdi dalem yang dikepalai oleh seorang yang berpangkat bupati. Oleh karena banyak abdi dalem yang bertugas memeliharanya, sehingga sering berhubungan dengan keraton, maka kepandaian membatik dengan motif batik halus keraton berkembang di wilayah ini. Kemudian, keterampilan membatik itu diwariskan kepada anak atau cucu perempuannya. Dan turun temurun hingga sekarang

MOTIF BATIK GIRILOYO

Kekayaan alam Yogyakarta sangat mempengaruhi terciptanya ragam hias dengan pola-pola yang mengagumkan. Sekalipun ragam hiasnya tercipta dari alat yang sederhana dan proses kerja yang terbatas, namun hasilnya merupakan karya seni yang amat tinggi nilainya. Jadi, kain batik-tulis bukanlah hanya sekedar kain, melainkan telah menjadi suatu bentuk seni yang diangkat dari hasil cipta, rasa dan karsa pembuatnya. Motif-motif ragam hias biasanya dipengaruhi dan erat kaitannya dengan faktor-faktor: (1) letak geografis; (2) kepercayaan dan adat istiadat; (3) keadaan alam sekitarnya termasuk flora dan fauna; dan (4) adanya kontak atau hubungan antardaerah penghasil batik; dan (5) sifat dan tata penghidupan daerah yang bersangkutan.


Dalam Katalog Batik Khas Yogyakarta terbitan Proyek Pengembangan Industri Kecil dan Menengah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (1996), menyebutkan bahwa di Daerah Istimewa Yogyakarta paling tidak memiliki lebih dari 400 motif batik, baik motif klasik maupun modern. Beberapa nama ragam hias atau motif batik Yogyakarta antara lain: Parang, Banji, tumbuh-tumbuhan menjalar, tumbuh-tumbuhan air, bunga, satwa, Sido Asih, Keong Renteng, Sido Mukti, Sido Luhur, Semen Mentul, Sapit Urang, Harjuna Manah, Semen Kuncoro, Sekar Asem, Lung Kangkung, Sekar Keben, Sekar Polo, Grageh Waluh, Wahyu Tumurun, Naga Gini, Sekar Manggis, Truntum, Tambal, Grompol, Ratu Ratih, Semen Roma, Mdau Broto, Semen Gedhang, Jalu Mampang dan lain sebagainya.


Masing-masing motif tersebut memiliki nilai filosofis dan makna sendiri. Adapun makna filosofis dari batik-batik yang dibuat di Giriloyo antara lain: (1) Sido Asih mengandung makna si pemakai apabila hidup berumah tangga selalu penuh dengan kasih sayang; (2) Sido Mukti mengandung makna apabila dipakai pengantin, hidupnya akan selalu dalam kecukupan dan kebahagiaan; (3) Sido Mulyo mengandung makna si pemakai hidupnya akan selalu mulia; (4) Sido Luhur mengandung makna si pemakai akan menjadi orang berpangkat yang berbudi pekerti baik dan luhur; (5) Truntum3 mengandung makna cinta yang bersemi; (6) Grompol artinya kumpul atau bersatu, mengandung makna agar segala sesuatu yang baik bisa terkumpul seperti rejeki, kebahagiaan, keturunan, hidup kekeluargaan yang rukun; (7) Tambal mengandung makna menambah segala sesuatu yang kurang. Apabila kain dengan motif tambal ini digunakan untuk menyelimuti orang yang sakit akan sebuh atau sehat kembali sebab menurut anggapan pada orang sakit itu pasti ada sesuatu yang kurang; (8) Ratu Ratih dan Semen Roma melambangkan kesetiaan seorang isteri; (9) Mdau Bronto melambangkan asmara yang manis bagaikan madu; (10) Semen Gendhang mengandung makna harapan agar pengantin yang mengenakan kain tersebut lekas mendapat momongan.


Motif-motif tersebut dari dahulu hingga sekarang diwariskan secara turun-temurun, sehingga polanya tidak berubah, karena cara memola motif itu sendiri hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu, dan tidak setiap pembatik dapat membuat motif sendiri. Orang yang membatik tinggal melaksanakan pola yang telah ditentukan. Jadi, kerajinan batik tulis merupakan suatu pekerjaan yang sifatnya kolektif. Sebagai catatan, para pembatik di Giriloyo khususnya dan Yogyakarta umumnya, seluruhnya dilakukan oleh kaum perempuan baik tua maupun muda. Keahlian membatik tersebut pada umumnya diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi lainnya

Proses Pembuatan Batik


Tahap-tahap pembuatan batik-tulis di Giriloyo adalah sebagai berikut. Sebelum kain mori dibatik, biasanya dilemaskan. Caranya adalah dengan digemplong, yaitu kain mori digulung kemudian diletakkan di tempat yang datar dan dipukuli dengan alu yang terbuat dari kayu. Setelah kain menjadi lemas, maka tahap berikutnya adalah mola, yaitu membuat pola pada mori dengan menggunakan malam. Setelah pola terbentuk, tahap selanjutnya adalah nglowong, yakni menggambar di sebalik mori sesuai dengan pola. Kegiatan ini disebut nembusi. Setelah itu, nembok yang prosesnya hampir sama dengan nglowong tetapi menggunakan malam yang lebih kuat. Maksudnya adalah unutk menahan rembesan zat warna biru atau coklat. Tahap selanjutnya adalah medel atau nyelup untuk memberi warna biru supaya hasilnya sesuai dengan yang diinginkan. Proses medel dilakukan beberapa kali agar warna biru menjadi lebih pekat. Selanjutnya, ngerok yaitu menghilangkan lilin klowongan agar jika disoga bekasnya berwarna coklat. Alat yang digunakan untuk ngerok adalah cawuk yang terbuat dari potongan kaleng yang ditajamkan sisinya. Setelah dikerok, kemudian dilanjutkan dengan mbironi. Dalam proses ini bagian-bagian yang ingin tetap berwarna biru dan putih ditutup malam dengan menggunakan canting khusus agar ketika disoga tidak kemasukan warna coklat. Setelah itu, dilanjutkan dengan nyoga, yakni memberi warna coklat dengan ramuan kulit kayu soga, tingi, tegeran dan lain-lain. Untuk memperoleh warna coklat yang matang atau tua, kain dicelup dalam bak berisi ramuan soga, kemudian ditiriskan. Proses nyoga dilakukan berkali-kali dan kadang memakan waktu sampai beberapa hari. Namun, apabila menggunakan zat pewarna kimia, proses nyoga cukup dilakukan sehari saja. Proses selanjutnya yang merupakan tahap akhir adalah mbabar atau nglorot, yaitu membersihkan malam. Caranya, kain mori tersebut dimasukkan ke dalam air mendidih yang telah diberi air kanji supaya malam tidak menempel kembali. Setelah malam luntur, kain mori yang telah dibatik tersebut kemudian dicuci dan diangin-anginkan supaya kering. Sebagai catatan, dalam pembuatan satu potong batik biasanya tidak hanya ditangani oleh satu orang saja, melainkan beberapa orang yang tugasnya berbeda.

Untuk Pewarnaan Alami denga mengunakan Kulit Kayu MAHONI, Daun INDIGO, JOLAWE, Dan semua jenis daun bias digunakan untuk pewarnaan.

Prosesnya memang cukup lama karena biasanya pencelupan pada warna alam dilakukan hingga 35 kalipencelupan, setelah itu harus ada penguncian warna dengan bahan-2 tertentu seperti Gula jawa dll.


Batik dengan Warna dari Kulit Mahoni

Batik Motif Kupu-kupu

Batik Trumtum Motif Kupu-kupu, Warna Sintetis

WISATA BATIK GIRILOYO


INGIN WISATA DI KAMPUNG BATIK GIRILOYO....?


A. Pendahuluan
Batik tulis adalah suatu hasil karya yang tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Diberbagai wilayah Indonesia banyak ditemui sentra pengrajin batik, Setiap daerah juga mempunyai keunikan dan kekhasan tersendiri, baik dalam ragam hias maupun tata warnanya. Salah satu daerah itu adalah Kampung Batik Giriloyo. Giriloyo adalah sebuah dusun di wilayah Desa Wukirsari, kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak kurang lebih 17 Km arah selatan kota Yogyakarta . Di Dusun ini banyak pengrajin batik, apalagi pasca gempa bumi 27 mei 2006 banyak LSM yang peduli dan membina sehingga saat ini Giriloyo merupakan Kampung batik yang sangat potensial.
Batik tulis yang di produksi oleh para pengrajin di Giriloyo jika dicermati di dalamnya mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pecinta batik. Nilai-nilai itu anara lain, kesakralan, keindahan/seni, ketekunan, ketelitian dan kesabaran. Nilai kesakralan tercermin dalam motif-motif tertentu yang hanya boleh di pakai oleh Sultan dan keluarganya, nilai keindahan tercermin dari motif ragam hiasnya yang dibuat sedemikian rupa sehingga memancarkan keindahan, sedangkan nilai ketekunan , ketelitian dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang cukup menyita waktu yang panjang dan lama untuk menghasilkan sebuah batik Tulis yang bagus dan menarik yan disukai oleh banyak orang.
Selain batik tulis ada beragam potensi wisata yan menjadikan Dusun Giriloyo menarik untuk dikunjungi diantaranya karena panorma alam yang cukup asri serta ada Makam Raja-raja Imogiri, Makam Keluarga Sultan Agung yang berada di puncak bukit serta wisata kuliner berbagai makanan tradisional seperti, Pecel Kembang Turi, Thiwul Ayu, Teh Gurahserta Wedang Uwuh yang merupakan minuman khas yang dibuat dari rempah-rempah yang memiliki aroma dan rasa yang sangat Istimewa.
Sedangkan wisatawan yang ingin berkunjung ke tempat lain yang satu arah dengan Desa Wisata Giriloyo adalah: Melewati Pasar Seni Gabusan Bantul, Pusat Keramik/Gerabah Kasongan, dan pusat Kerajiana Kulit Manding serta Sentra Kerajinan Wayang kulit di Pucung dan pantai Parangtritis juga merupakan satu jalur ke arah Giriloyo.

B. Produk
Produk yang dihasilkan warga Dusun Giriloyo antara lain:
Kain Jarit tradisional
Kain Sarung Batik
Berbagai batik untuk Kemeja dan Blouse
Koas Batik
Sarung bantal Batik
Taplak meja
Sapu Tangan
Berbabagai batik pada kerajianan kayu
Korden Batik
Dan berbagai kerajian lain
Selian itu pengrajin juga menerima pesanan berbagai motif serta ukuran kain, saat ini juga mengerjakan berbagai pesanan dari Luar negeri.

Semua produk batik tulis tradisional mengunakan warna alami dan ada yang mengunakan sintetis.

C. Harga Paket Wisata

Paket 1 : Jelajah Desa (menikmati alam sekitar serta melihat pengrajin batik)
Fasilitas : Pemandu, Snack dan makan siang dengan menu khas DesaGiriloyo
Harga : Rp. 50.000,- / Peserta

Paket 2 : Jelajah Desa (menikmati alam sekitar serta melihat pengrajin batik)dan BELAJAR MEMBATIK
Fasiltas : Pemandu, Snack dan makan siang dengan menu khas Desa Giriloyo, belajar membatik pada kain ukuran kecil dan proses pewarnaan (Hasil dibawa pulang)
Harga : Rp. 100.000,- / Peserta

SEMUA PAKET MINIMAL DIIKUTI 10 ORANG.


D. Cara Pemesanan
1. Calon peserta membayar 50% total biaya yang telah di pilih melalui rek BANK BCA Cab. Katamso Yogyakarta atas Nama : LATIFUDIN nomor Rekening 4450587511.
2. Setelah melakukan transfer bisa menghubungi Telp. (0274) 7144865 esia 0274 9511530 atau SMS ke 0812 15 6 2006 / 087839903010 / 085743225838

E. Penutup.
Demikian Penawaran ini kami sampaikan, terima kasih atas kunjungan dan kerjasamanya.

Bantul
Koordinator


Latifudin, S.Ag